Di balik hembusan angin Pantura yang membawa aroma malam batik basah, seorang siswa SMP Negeri 6 Pekalongan berdiri tegar di panggung.
Tangan kirinya memegang kain batik motif parang kusumo, sementara tangan kanannya menggenggam kuas yang masih bergetar. Bukan sekadar lomba menggambar atau menari. Saat itulah, kami para calon pejuang lomba merasa sedang “menenun” karakter diri kami sendiri.
Itulah salah satu momen yang selalu menghiasi Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Tingkat Kota Pekalongan. Digelar oleh Dinas Pendidikan Kota Pekalongan di bawah koordinasi Pusat Prestasi Nasional Kemendikdasmen, ajang ini bukan sekadar kompetisi. FLS3N adalah ruang bagi kami siswa SMP untuk menyalurkan bakat sekaligus membentuk karakter bangsa melalui kreativitas dan apresiasi seni budaya.
FLS3N Kota Pekalongan sudah menjadi tradisi tahunan yang selalu dinanti. Ribuan siswa dari berbagai sekolah di Kota Batik ini bersaing di puluhan cabang lomba. Untuk jenjang SMP, cabang yang dilombakan antara lain Ilustrasi, Kriya, Tari Kreasi, Pantomim, Menyanyi Solo, Kreativitas Musik Tradisional, hingga Jurnalistik.
Bagi kami siswa SMP Negeri 6, FLS3N bukan hanya nama ajang lomba. Ini adalah panggung di mana kami belajar bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan pelajaran untuk bangkit lebih kuat.
“Dulu aku grogi banget saat latihan menyanyi solo. Tapi setelah ikut FLS3N, kami belajar bahwa seni itu tentang keberanian, ketekunan, dan kerja keras. Sekarang kami lebih percaya diri di sekolah.”
“Batik bukan lagi hanya kain, melainkan simbol ketahanan dan kreativitas bangsa.”
— Siswa SMP Negeri 6 Pekalongan
Guru-guru di SMP Negeri 6 Pekalongan selalu mendukung penuh. Mereka mengingatkan bahwa FLS3N bukan soal siapa yang menang, tapi bagaimana seni bisa membentuk karakter Pelajar Pancasila. Di sini kami belajar disiplin, menghargai perbedaan, bekerja sama dalam tim, dan mencintai budaya sendiri.
Di era digital yang serba cepat, di mana remaja lebih sering scroll handphone daripada memegang kuas atau alat musik, FLS3N mengingatkan kami untuk kembali ke akar budaya.
Di panggung FLS3N, bukan hanya bakat yang bersinar.
Karakter bangsa pun ikut terukir indah — mulai dari halaman SMP Negeri 6 Pekalongan.